Nanda's Blog

Share a smile, Share information

Broken Or Just Bent March 9, 2013

Filed under: Pemikiranku,Story — nanda @ 10:39 am
Tags:

The Rain Room Is Unveiled At The Curve Inside The Barbican Centre

“ Hujan” aku berkata dalam hati. Aku sedang berjalan ke arah parkiran, hari ini aku sengaja menghabiskan malam di kantor lagi. Aku berjalan perlahan, membiarkan hujan membasahi pakaianku. Aku mengambil jas hujanku dan mengendarai motorku. Untunglah jalanan malam ini tidak terlalu ramai. Aku menikmati perjalanan pulang dari kantor dengan suasana seperti ini. Begitu sunyi, jalanan hanya berisi pengendara lain yang juga pulang malam, namun semuanya melaju dengan cukup kencang. “Mungkin mereka terburu-buru, mungkin ada orang-orang yang menunggu kepulangan mereka di rumah” pikirku kembali. Sedangkan aku berkendara dengan cukup perlahan. “Tak ada orang yang akan menungguku, aku pulang ataupun tidak, rumah itu hanya sebagai tempatku beristirahat dan membersihakan diri”.

Aku memandang lampu lalu lintas yang menyala merah, di sebelahku ada satu pasang pria dan wanita yang tidak memakai jas hujan, namun saling tertawa hangat, seolah tidak peduli akan hujan ini karena kebahagiaan sudah menyelimuti mereka. “Aku pernah merasakan hal yang sama setahun yang lalu, dengannya.” “aghh kenapa aku harus mengingat dia lagi!” aku menyalahkan diriku dan segera melaju saat lampu menyala hijau.

Aku hampir tertidur ketika ponsel ku berbunyi, dengan enggan aku mengangkat “Halo” kataku, “Nana, mau pergi ga?” ternyata itu Didi, mantan pacarku yang sudah kuanggap sebagai kakak sekarang. Kami memang sempat berpacaran, bahkan bisa dibilang hubunganku sudah serius, orang tuaku sudah mengenal dan menganggap Didi sebagai anak, begitu juga aku di keluarga Didi, namun aku memutuskan untuk tak melanjutkan hal ini setelah aku mengetahui dia berselingkuh dengan wanita lain lagi. Yah sifat Didi memang baik, selain sikapnya yang suka mendekati wanita lain. Pria ini yang membuatku menjadi player. 

7 Tahun lalu, malam dimana aku menampar pipinya, menangis, berteriak dan melempar semua barang-barang di kamarnya, aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya, malam itu aku kehilangan kendali, Didi pucat pasi melihat tingkahku yang tak terkendali, aku benar-benar menangis dan menghancurkan semuanya, Didi membiarkanku menangis dan berteriak menumpahkan semua sakitku, hatiku hancur. Aku menangis hingga aku tertidur di kamarnya. Esok harinya dia mengantarku pulang. Aku terdiam sepanjang jalan pulang begitu juga dengannya.

Beberapa bulan setelahnya Didi selalu berusaha bersikap baik, walaupun aku bersikap dingin dan kasar, Begitu juga saat aku mulai berkencan dengan banyak pria, Didi mengingatkanku untuk selalu menjaga diri, aku mengabaikannya, bahkan sering mencelanya, Sikap Didi masih suka berganti-ganti wanita dan saat itu aku pun ternyata mulai memiliki sikap yang sama. Mungkin hal inilah yang membuatku menjadikannya sebagai kakak tapi sekaligus musuh terbesarku. Aku selalu membantah semua ucapannya, namun aku kadang mencarinya disaat aku ingin menangis.

“Na, mau ato ga?” Tanya Didi lagi, aku tersadar, dan mengangguk lalu sadar Didi sedang menelpon dan berkata “oke, tp kamu jemput aku di rumah” kataku, “Beres, 30 menit lagi aku sampai” lalu Didi menutup telephonnya. Aku bangun dari tempat tidur, menuju kamar mandi, setelah itu berdandan secukupnya lalu memasukkan barang-barang ke tas ku. Didi membunyikan klaksonnya saat di depan rumahku, Aku memakai flat shoesku dan  segera membuka pintu, lalu memastikan semua pintu sudah terkunci dengan baik sebelum naik ke mobilnya.  Dalam mobil Didi bersenandung kecil, aku terdiam, Didi sempat melirikku beberapa kali, Dia tau jika aku sedang tak ingin di ganggu. Tak lama kami sampai di tempat aku dan Didi biasa menghabiskan waktu.

Didi masih memandangku, aku menatapnya enggan “kenapa?!” tanyaku galak, “emm, nothing” kata Didi dengan senyum nakalnya. Aku hanya tersenyum sinis dan mengambil sebatang rokok dan mulai menyalakannya. Didi tertawa dan berkata “Seharusnya aku yang memegang rokok itu bukan kamu na” goda Didi, “Belajar dulu ngerokok kalo gitu” tantangku sambil memandang kosong ke arah depan. “Na, aku mau nanya kamu lagi,janji ini terakhir kali” kata Didi. “Jawabanku tetep ga, dan ga akan berubah” Sahutku langsung, Didi tersenyum geli kembali “Aku belum bilang apa pertanyaanku loh” , aku menoleh dan menatap Didi langsung ke matanya “Lupakan pertanyaan tentang niatmu buat ngajak aku balikan, aku bukan perempuan polos yang kamu pacarin 10 tahun lalu”. “Selain itu perasaanku udah lebih ke saudara dan ga ada rasa suka apalagi napsu” lanjutku. “Oke, tapi kali ini aku janji, kalo kamu mau balikan, kita langsung nikah dan aku janji akan berubah” Kata Didi.  Aku menghisap rokokku dan berkata “Harusnya itu kamu lakukan 7 tahun lalu”, “Lagian kalo kita nikah sekarang, itu percuma, aku ga bisa ngebayangin aku bakal bernapsu liat kamu telanjang, dan rasanya aku lebih baik bunuh diri saat itu” kataku langsung. Didi membuat wajah kecewa, namun belum menyerah juga “Kalo seandainya mama nyuru kita nikah gimana??Kayanya mamamu kuatir lihat keadaanmu yang udah lama sendiri” Tanya Didi dengan mata berbinar, “Kalo ampe mamaku nyuru kaya gitu, aku bakal nyaranin mamaku buat nikah ma kamu” kataku datar. “ckckckck, kamu dingin banget na” kata Didi, “Makasi, aku kaya gini karena seseorang” kataku galak sambil memandang sinis ke arahnya. “Oke oke sabar say” goda Didi kembali. Aku meneruskan menghisap rokokku dan Didi menghabiskan minumannya. Aku dan Didi hanya membisu sepanjanga sisa malam, inilah kenapa aku suka dengan ajakan Didi, dia tau aku lebih suka membisu sambil membiarkan pikiranku mengembara entah kemana.

Alarm di ponsel ku berbunyi, hari ini sabtu dan masih pukul 7 pagi hari. Aku mematikan alarm dan pergi mandi. Hari ini aku harus pergi ke rumah sahabat dekatku, aku berjanji untuk mengantarnya melihat-lihat kain kebaya yang akan dia gunakan di acara pernikahannya bulan depan.

“Halo,Risti ini aku, bentar lagi aku berangkat kerumahmu ya” Kataku saat menghubungi Risti. Aku segera merapikan diri dan berdandan, lalu meluncur kerumah Risti. Sesampainya disana pintu dibukakan oleh seorang wanita muda yang sedang menggendong bayi. “Masih begitu muda, namun sudah memiliki anak” kataku dalam hati, “Lalu aku??” kataku dalam hati sambil tersenyum miris.

“Hai na, ayo masuk dulu, oia kenalin ini adik sepupuku, Namanya Dea” kata Risti. “Halo, Dea” kata Dea sambil menjulurkan tangannya. “Nana” kataku. “Sayang, kemeja yang bakalan dipakai ke nikahan Risti, kamu taruh dimana ya?” Kata seorang pria tiba-tiba seraya berjalan mendekati Dea. Deg!!Itu Riva, itu pria yang membuat aku memilih untuk sendiri, itu pria yang aku sukai, itu pria yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar setahun yang lalu. “Nana!” kata Riva dengan muka terkejut. Kepalaku pening, mataku terasa panas, semua rasanya menyesakkan, aku perlu pergi, napasku tercekat, aku mengumpulkan sisa tenaga untuk dapat segera pergi, “Sori Risti, aku mendadak ga enak badan, aku kayanya ga bisa anter kamu deh hari ini” Kataku sambil buru-buru melangkah pergi. “Nana, na kamu kenapa?” Panggil Risti.

Aku Bergegas pergi, airmata dan sakit ini sudah tak tertahan lagi. Aku bertahan hingga hari ini karena yakin akan ada sedikit harapan untukku. Namun ternyata tidak. Tak ada lagi orang yang aku tunggu, tak ada lagi Harapan yang selalu aku ucapkan. Tak ada lagi apapun. Aku menyebrang jalanan dengan pikiran kalut, BRUUUUKKKKK!!! Aku merasa badanku melayang dan terhempas ke tanah dengan keras, perlahan pandanganku kabur, aku hanya mendengar orang-orang berteriak panic “Ada yang tertabrak, tolong panggil ambulan!!” kata beberapa orang. “Siapa yang tertabrak? Apakah aku?” pikirku dengan sisa tenaga dan kemudian gelap.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s